Bab 2 dari 5
Not yet available in the requested language -- showing the original version.
Bab 2 -- Kehidupan Kampus
"Kenapa Abi minta maaf? Abi mau ke mana?" tanyaku bingung. "Umi... Abi mau ke mana?"
Umi tidak menjawab.
Beliau hanya menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, lalu mengalihkan pandangan ke dinding kayu rumah kami, seolah tidak sanggup menatap kepolosan di mataku. Tangannya meremas ujung mukena yang dikenakannya.
Perasaanku semakin tidak enak.
Aku menoleh ke arah Kak Fariz yang sedang memasukkan beberapa buku pelajaran ke dalam ranselnya.
"Kak Fariz mau pergi juga?" tanyaku panik.
Aku berlari mendekat dan menarik ujung bajunya.
"Kakak mau ke mana? Maira ikut!"
Gerakan tangan Kak Fariz terhenti.
"Pergi sebentar, Maira."
"Ke mana? Berapa hari?"
Dia tidak langsung menjawab.
"Kamu di rumah sama Umi, ya. Jaga Umi."
"Enggak! Kakak jangan pergi!"
Tangisku akhirnya pecah. Aku memeluk pinggangnya erat-erat, bahkan semakin kuat ketika Kak Fariz mencoba melepaskan tanganku.
Umi segera mendekat dan berjongkok di samping kami. Tangannya yang dingin mengusap punggungku yang berguncang karena tangisan.
"Maira... sudah, Nak," bisiknya lembut.
Namun, suaranya sendiri bergetar. Setetes air mata jatuh membasahi bahuku.
"Biarkan Kakak sama Abi pergi dulu..."
"Umi, kenapa Kak Fariz sama Abi harus pergi?!" seruku di sela isakan. "Kenapa Maira enggak boleh ikut?"
Kak Fariz akhirnya ikut berjongkok di hadapanku.
Tangannya yang gemetar merapikan rambutku yang berantakan. Dia menatapku lama, seolah sedang berusaha mengingat wajahku baik-baik.
"Maira... jangan menangis."
"Kakak balik kapan?" tanyaku sesenggukan.
Kak Fariz terdiam.
Matanya beralih kepada Umi yang hanya bisa menunduk. Setelah beberapa detik, dia kembali menatapku dan memaksakan sebuah senyum tipis.
"Nanti, ya."
Aku mengangguk.
Dan aku percaya begitu saja.
Sebab saat itu, aku belum cukup dewasa untuk memahami bahwa terkadang orang dewasa mengucapkan kata *nanti* bukan karena mereka benar-benar tahu kapan akan kembali.
---
Pintu depan akhirnya tertutup.
Aku berdiri terpaku di balik jendela bersama Umi yang merangkul bahuku erat-erat. Dari sana, kami menyaksikan mobil yang membawa Abi dan Kak Fariz perlahan meninggalkan halaman rumah.
Mobil itu semakin jauh.
Melewati jalan desa.
Kemudian berbelok menuju jalan raya yang mengarah ke kota.
Aku masih berdiri di sana sampai kendaraan itu tidak lagi terlihat.
"Umi..."
Tidak ada jawaban.
"Kak Fariz nanti pulang, kan?"
Pelukan Umi justru semakin erat.
Malamnya, rumah kami terasa jauh lebih luas dari biasanya.
Tidak ada suara langkah Abi.
Tidak ada suara Kak Fariz membaca Al-Qur'an di ruang tengah.
Tidak ada suara yang biasanya memenuhi rumah kecil kami.
Aku duduk di samping Umi sambil menunggu.
Entah apa yang kutunggu.
Mungkin suara mobil yang kembali memasuki halaman.
Mungkin ketukan pintu.
Atau mungkin suara Kak Fariz memanggil namaku seperti biasanya.
Namun, tidak ada satu pun yang datang.
Hari berganti.
Satu minggu.
Satu bulan.
Abi dan Kak Fariz tidak pernah kembali.
Yang kutahu saat itu hanyalah kabar samar bahwa Abi membawa Kak Fariz pergi jauh ke kota. Tidak ada alamat yang bisa kudatangi. Tidak ada nomor telepon yang bisa kuhubungi.
Hanya kabar yang semakin lama semakin jarang terdengar.
Bertahun-tahun kemudian, ketika aku sudah cukup dewasa untuk memahami arti perceraian dan perpisahan, barulah aku mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Hari itu bukan sekadar hari ketika Abi dan Kak Fariz pergi.
Hari itu adalah hari ketika keluargaku terpecah.
Dan sejak saat itu, kenangan tentang kami bertiga hanya tersisa dalam potongan-potongan kecil di kepalaku.
Tawa Kak Fariz saat makan siang.
Tangannya yang sering mengacak rambutku.
Suara Abi saat mengajakku ke masjid.
Hal-hal sederhana yang dulu kuanggap biasa, justru menjadi sesuatu yang paling kurindukan setelah semuanya hilang.
---
Enam tahun berlalu.
Hidup membawaku jauh dari desa kecil tempat aku dibesarkan.
Sejak duduk di bangku madrasah, aku berusaha mempertahankan nilai-nilaiku agar bisa mendapatkan beasiswa pendidikan. Perjuangan itu akhirnya membawaku ke salah satu universitas negeri terbaik di kota.
Kini, aku tinggal mandiri di sebuah kamar kos putri sederhana yang letaknya tidak terlalu jauh dari kampus.
Sementara Umi tetap tinggal di rumah kami dan mengurus usaha katering kecil-kecilan yang menjadi sumber penghasilan kami.
Namaku Arsyila Anindya Humaira.
Keluargaku selalu memanggilku Maira. Namun, sejak masuk sekolah, orang-orang mulai memanggilku dengan dua nama. Ada yang memanggilku Arsyila, ada pula yang tetap memanggilku Maira.
Kehidupan kampus ternyata jauh berbeda dari lingkungan yang selama ini kukenal.
Enam tahun belajar di madrasah yang cukup dekat dengan kehidupan pesantren membuat hiruk-pikuk Fakultas Ilmu Komputer terasa seperti dunia baru bagiku.
Mahasiswa berlalu-lalang dengan laptop di tangan.
Suara diskusi terdengar dari berbagai sudut.
Tugas, organisasi, praktikum, dan kegiatan kampus seolah tidak pernah berhenti.
Awalnya, aku sedikit kewalahan.
Namun, perlahan aku mulai terbiasa.
Siang itu, jam perkuliahan Algoritma dan Struktur Data baru saja berakhir.
Aku memasukkan buku ke dalam tas ketika suara hujan mulai terdengar dari luar gedung. Gumpalan awan mendung menggantung rendah di atas atrium fakultas. Aroma tanah basah memenuhi udara, membawa ingatanku kembali pada desa kelahiranku.
"Maira, kamu langsung pulang ke kosan?" tanya Amel sambil merapikan tumpukan bukunya.
Aku menggeleng.
"Enggak, Mel. Aku mau ke Masjid Utama Kampus dulu."
Aku merapikan posisi cadar kain berwarna hitam yang menutupi separuh wajahku, lalu memastikan jilbab panjang selutut yang dipadukan dengan gamis polos ini tidak tersangkut di sandaran kursi.
Amel tersenyum.
"Oke. Aku duluan, ya. Lagi halangan soalnya."
"Iya. Hati-hati di jalan."
Amel mengangguk sebelum berjalan meninggalkanku.
Aku kembali memasukkan buku terakhir ke dalam tas.
Di luar, hujan mulai turun lebih deras.
Aku menarik nafas pelan.
Lalu melangkah menuju Masjid Utama Kampus.
Aku tidak tahu, siang itu akan menjadi a
wal dari sesuatu yang sama sekali tidak pernah kubayangkan.
Sesuatu yang perlahan akan mengubah kehidupanku.
Dan mungkin...
membawaku kembali kepada masa lalu yang selama ini kurindukan.
---
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya