Customer Service
Karya ini masih menunggu moderasi Admin MS Publishing. Konten dapat berubah, ditolak, atau dihapus sewaktu-waktu.

Navigasi Pulang

Bab 2 dari 2

Bab 1
100%

Bab 2: Pabrik & Nestapa

Not yet available in the requested language -- showing the original version.

Di suatu jalanan, dikelilingi oleh pabrik. Matahari sore terlihat sangat terang, mata almond kecil itu mengedipkan matanya. Dengan rambut yang diikat dua, pakaian berwarna pink dan putih. Anak kecil berumur lima tahun itu dengan semangat menggoes sepeda ungunya yang memiliki tiga roda. Sepeda yang terkenal pada masanya.

“Pelan-pelan, nanti jatuh.” Wanita dewasa berumur dua puluh tujuh tahun mengikuti anak kecil itu. Itu ibunya.

“Nggak, Ibu,” balasnya dengan suara khas anak kecil itu.

Ibunya mengulas senyum tipis. Rambut putrinya yang bergerak ke kiri-kanan membuat ibu satu anak itu semakin gemas dibuatnya.

Akhirnya, setelah beberapa menit, mereka sampai di area seperti biasanya untuk menjemput sang suami dan bapak.

Sekeliling mereka masih dipenuhi dengan bangunan pabrik karena memang tempat bekerja bapaknya berada di kawasan pabrik.

“Bapak, kok lama, Bu?” Anak kecil itu mendongak menatap ibunya. Mata besar berbentuk almond itu terlihat berkedip-kedip.

“Sebentar lagi, sayang.”

Tidak lama, terlihat pria dewasa berjalan ke arah mereka. Anak kecil itu bersorak gembira, berteriak memanggil bapak.

Wanita dan pria dewasa yang berstatus suami istri itu tersenyum melihat betapa manisnya putri mereka.

“Ayo pulang!” seru sang bapak setelah menyambut pelukan putrinya.

“Ayo, aku lapar,” jawab anak kecil itu dengan senyum lebar. Dia Menepuk perut yang sedikit buncit itu.

Mereka bertiga berjalan beriringan, dengan putrinya yang berada di tengah-tengah mereka. Manis sekali pemandangan saat itu.

Dari ujung turunan jalan, terlihat mereka bertiga mengobrol ria sembari tersenyum dengan sang bapak yang menyeret sepeda karena putrinya ingin berjalan bersama.

Langit yang semakin sore berwarna jingga, dan mereka yang terlihat bahagia. Sangat terlihat seperti keluarga yang sangat harmonis. Memang harmonis.

Setiap sore menjemput bapaknya. Di hari libur bapaknya, mereka mengelilingi kota, bermain di taman. Juga bermain kartu anak-anak bersama.

Meskipun sang bapak tidak banyak bicara karena itu memang karakternya, namun anak perempuan kecil itu bisa merasakan bahwa bapaknya ikut berbahagia.

•••

Anak kecil itu kini sudah bertambah umurnya dua tahun. Beberapa bulan lalu, dia pulang ke kampung asalnya, karena dikabari neneknya terkena stroke.

Alhasil, sekarang dia akan bersekolah di sini. Entah mengapa, padahal di Kota Surabaya itu dia sudah daftar sekolah dasar.

Anak kecil itu berlarian ke sana-kemari, mencari ibunya di atas rumah panggung sederhana itu. Ingin menunjukkan hasil gambarnya.

“Ibu!” Langkah kecilnya terhenti. Anak kecil itu melihat ibunya yang menangis di tengah kumpulan keluarganya yang lain.

“Jadi aku harus bagaimana, Kak?” Suara putus asa sang ibu terdengar.

“Dia nggak bisa dihubungi, sedangkan sekarang anaknya harus sekolah, dari mana biaya untuk sekolahnya?” Meskipun anak itu masih kecil, namun dia cukup mengerti betapa seriusnya percakapan para orang tua itu. Kakinya mundur satu langkah, badannya dia sembunyikan agar tidak terlihat.

“Coba kakaknya dihubungi,” suruh salah satu keluarga. Itu kakak perempuan dari ibunya.

“Udah, tapi Mas Andri juga nggak tahu dia di mana.” Wajah gusar ibunya terlihat jelas.

“Yang tenang ya, nanti Kakak bantu biaya sekolah Neira, kita cari suamimu.” Tante Reni. Itu Kakak perempuan ibunya.

Raga anak kecil itu perlahan menjauh, tetapi pikirannya masih berputar-putar dengan percakapan para orang tua itu. Cari suamimu? Apakah itu berarti mencari bapak? Ke mana bapaknya?

•••

Dua belas hari sejak anak kecil itu mendengar percakapan para orang dewasa. Begitu pula dia merasa ada yang berbeda dari ibunya. Tahun ajaran baru sekolah dasar juga akan dimulai sebentar lagi.

“Kak, dia selingkuh, dia udah nikah lagi.” Ibu menangis. Merasakan pedih luar biasa mengetahui suaminya berselingkuh.

Tanpa aba-aba, sang bapak hanya pamit untuk kembali bekerja ke Kota Surabaya tempat mereka tinggal. Tidak ada kecurigaan, namun sebelum mereka pulang ke kampung anak kecil itu melihat ibu dan bapaknya berdebat.

Karena ada SMS yang masuk ke ponsel sang bapak. Isi SMS itu adalah panggilan “sayang”. Mereka bertengkar di hadapan anak kecil itu yang hanya diam di pojok pintu. Melihat ibunya marah dan bapaknya yang membanting ponsel itu sampai hancur terpisah-pisah.

Itu menakutkan.

Membekas lekat dalam ingatan anak kecil itu.

Ternyata memang benar, itu adalah selingkuhannya. Dan sekarang yang tersisa hanya istri yang ditinggalkan begitu saja tanpa gugatan cerai. Begitu pula anak kecil yang berumur tujuh tahun itu. Pria dewasa yang bergelar suami dan bapak itu meninggalkan darah dagingnya sendiri.

Anak perempuan pertamanya.

Tanpa mereka sadari, ada raga kecil di balik pintu yang sedang memegang mainan bonekanya mendengar semua itu.

Anak kecil itu mendengar semuanya yang terjadi.

Dan nestapa anak kecil itu—dimulai saat ini.

•••

Tahun berganti, setiap hari berjalan dengan penuh luka.

Luka bagi dua orang yang ditinggalkan itu. Sang ibu ke sana-kemari mencari uang, demi menghidupi dirinya dan putrinya.

Dan anak kecil itu yang diam. Semenjak mendengar itu dari dua tahun yang lalu. Meskipun awalnya dia tidak mengerti, namun melihat ibunya begitu terluka dia berhenti menanyakan bapaknya.

Sampai akhirnya dia sadar. Bapaknya tidak akan kembali, bapaknya mempunyai rumah baru. Rumah yang mungkin jauh dari dirinya. Tidak akan bisa tergapai.

Bersama neneknya, dia menjalani hari-harinya. Bersekolah, bermain selayaknya anak-anak. Menutupi semua hal yang membuat ibunya sedih.

Dia berhasil. Menjadi anak kecil yang menutupi semuanya sendirian, seolah-olah tidak peduli dengan hilang bapaknya. Membuat orang dewasa berpikir dia tidak terluka.

Dia hanya tidak ingin ibunya terluka. Ibunya pasti akan terluka jika tahu bahwa anak kecil itu tidak sekuat yang mereka pikirkan.

Ibunya pasti lebih terluka. Jika mengetahui anak kecil itu merindukan bapaknya, mempertanyakan kenapa bapaknya hilang begitu saja.

Ibu pasti paling terluka. Jika mengetahui anak kecil itu begitu sedih, setiap dia jauh dari ibunya untuk bekerja.

Mereka menyebutnya anak yang cuek. Anak yang tak pernah terlihat mencari bapaknya. Anak yang seolah tak peduli ditinggalkan.

Padahal bukan tidak peduli—dia hanya terlalu menyayangi ibunya. Untuk menambah satu luka lagi di pundaknya, anak kecil itu tidak mampu.

Dia hanya mampu bertahan dengan caranya sendiri, di usia yang masih kecil itu.

Saat itu usianya baru tujuh tahun—terlalu kecil untuk memahami alasan orang dewasa pergi, namun cukup besar untuk mengerti—bahwa ibunya sudah terlalu sering menangis.

Maka dia memilih diam. Menyimpan rindunya sendiri. Menelan semua tanyanya sendiri. Mencoba menikmati ketiadaan peran.

Seiring dengan ketiadaan peran bapak, dia juga perlahan merasakan ketiadaan peran ibu. Dia hanya bisa menunggu ibunya pulang bekerja.

Melihat ibu pulang di sore hari dengan wajah lelah, keringat yang bercucuran membuat anak itu tahu segalanya.

Tahu bahwa ibunya sedang berkelana, ke mana saja. Tidak apa-apa—itu juga demi dirinya.

Namun ketiadaan satu peran membuat dia tumbuh menjadi anak yang haus akan cinta laki-laki.

Bagi dia bapak adalah—cinta pertama, dan luka pertama.

Tapi untuk semuanya, dia bersyukur, mempunyai ibu yang begitu hebatnya.

Selang dua tahun tepat saat dia berumur sembilan tahun. Ibunya memutuskan untuk kembali menikah, ada seorang pria yang ingin bersama ibunya.

Tentu dengan senang hati dia merestui pernikahan ibunya dengan duda beranak satu. Pria itu juga sangat baik kepada anak kecil itu, meskipun dia bukan anak kandungnya.

Beliau juga bersedia membereskan masalah yang bapaknya tinggalkan. Tidak menceraikan ibunya.

Dia juga senang tentunya karena akan merasakan kasih sayang seorang bapak. Dia senang karena dia sekarang mempunyai kakak perempuan yang lebih tua satu tahun darinya.

Keluarga bapak tirinya juga sangat baik. Menerima ibunya dan anak itu dengan hangat.

Anak itu memanggil bapak tirinya dengan sebutan “Ayah”. Karena anak kandung beliau memanggil ayah. Alhasil, beliau menyuruh putri tirinya itu memanggil dengan panggilan yang sama. Tidak membedakan sedikit pun.

Sekarang matanya melihat dengan jelas pernikahan ibunya. Kata “Sah” terdengar dari para saksi. Anak kecil itu menundukkan kepalanya, tidak ingin ada satu pun orang yang melihat bulir air matanya terjatuh.

Dia akan tetap menjadi anak yang diam. Tugasnya hanya tersenyum meski di depan ibunya sekali pun. Dia tersenyum dengan harapan ibunya akan bahagia setelah ini.

Anak kecil itu berdoa di dalam hatinya, buatlah ibunya bahagia. Ringankanlah beban ibunya dengan adanya pernikahan ini.

Dengan para saksi juga keluarga yang berkumpul rasa senangnya membeludak. Dia mengerti dengan apa yang sedang terjadi, pernikahan sederhana ini—dia merestuinya. Dia memberi restunya seumur hidup.

Wajah bahagia ibunya akan dia ingat sampai kapan pun. Ibunya terlihat cantik meski tanpa polesan riasan pengantin, meski tanpa kebaya putih khas pengantin dan gaun yang indah. Ibunya tetap yang paling cantik.

Tidak apa dengan perasaannya, dia ikut berbahagia jika ibunya bahagia.

•••

Baju seragam berwarna putih dengan rok biru itu dipakai oleh anak kecil yang sudah memasuki sekolah menengah pertama. Anak kecil itu tumbuh dengan baik.

Sangat baik. Dia masih tetap anak yang sama. Anak yang seolah tidak peduli dengan hilang bapaknya. Tapi dengan pemahaman yang lebih jelas, dia sudah mengerti sepenuhnya tentang apa yang terjadi.

Dia tumbuh bersama keluarga dengan formasi baru. Ayah tiri begitu baik, namun tiri tetaplah tiri. Ada jarak yang sengaja dia buat agar yang bergelar kandung tidak merasa asing.

Meskipun kakak tiri tidak serumah dengannya. Kakak tirinya tinggal bersama dengan ibunya.

Meskipun dia sudah menetapkan batasan itu, namun—sepertinya yang bergelar tiri tetap akan di pandang sebelah mata.

Keluarga ayah tiri tidak sebaik yang dia kira. Mereka bertindak seolah anak itu yang merebut, yang menggantikan. Nyatanya tidak begitu.

Awalnya berjalan dengan baik, namun entah kenapa perlahan berubah menjadi jahat dalam pandangan anak itu. Mereka berubah menjadi orang dewasa yang menakutkan.

Di suatu acara keluarga tepatnya hari suka cita, Hari Raya Idulfitri, para keluarga pastinya akan berkumpul bersama untuk saling memaafkan.

Namun yang ibunya dan anak itu dapat bukan rasa suka cita. Melainkan rasa sakit yang membekas, mereka datang sebagai keluarga, namun mengapa orang-orang di sana seperti tidak menganggap kehadiran mereka.

Tidak ada yang bertanya, tidak ada sapaan, makan bersama pun tidak mereka panggil dua orang yang sudah jadi keluarga mereka itu.

Dengan teganya, mereka mengacuhkan seseorang yang sudah dijadikan keluarga oleh putra dan kakak mereka.

Itu membekas dalam ingatan anak itu yang mungkin masih berumur dua belas tahun saat itu. Hanya selang beberapa tahun pernikahan berubah menjadi rasa sakit lagi bagi ibunya.

Namun, dia bersyukur, ayah tiri membela ibunya dengan lantang, tanpa pamrih.

Untuk dia. Biar lah, memang sedari awal dia adalah orang asing, yang katanya bisa menjadi perebut hak anak lain. Tidak apa, tapi jangan menyakiti ibunya.

Kita panggil anak itu Neira Syirain. Nama indah yang diberikan bapaknya.

Pengalaman yang manis dari sekolah menengah pertama, mengikuti ekstrakurikuler pengibar bendera. Namun, pengalaman buruk juga telah dia dapat dalam masa putih biru itu.

Kabar baiknya, dia bertemu teman-teman yang baik.

Kabar buruknya, Ibunya mengalami kecelakaan motor, menyebabkan pendarahan dalam rahimnya menyebabkan penebalan dinding rahim. Dia menyaksikan ibu tersayangnya kesakitan memegangi perutnya. Ketakutan akan kehilangan, kembali dia rasakan begitu hebatnya. Itu Ibunya, dia hanya mempunyai Ibunya.

Syukurnya itu bisa disembuhkan. Namun, harapan untuk mempunyai anak kembali itu kecil.

Lalu dia juga memulai hubungan asmara yang tidak baik.

Orang bilang hubungan asmara empat belas tahun itu masih terbilang cinta monyet. Namun, yang Neira rasakan bukan begitu adanya.

Dia mencintai dengan sungguh, seluruh hatinya dia berikan tanpa menyisakan untuk dirinya sedikit pun. Selayaknya remaja pada umumnya, mereka berpacaran sembari bersenang-senang.

Namun, bagi Neira itu bukan sekadar bersenang-senang. Dia terlalu mencintai seseorang itu, sampai akhirnya dibohongi berkali-kali pun dia masih menerima hal itu. Dia tidak ingin kehilangan lagi.

Dia hanya ingin dicintai. Dia benar-benar tumbuh menjadi anak perempuan yang haus kasih sayang seorang laki-laki. Dia bersedia merelakan apa pun demi kasih sayang itu, dan puncaknya ketika Neira tahu bahwa laki-laki yang dia pertahankan itu mengkhianati kepercayaannya.

Mungkin bagi laki-laki itu, hubungan mereka hanya sebatas kesenangan. Padahal Neira selalu meredamkan suaranya, meskipun ada hal yang membuat dia tidak nyaman, namun dia berusaha untuk tetap diam.

Karena tidak ingin—kehilangan.

Dia meredam suara hatinya yang bergemuruh menerima begitu banyak kepedihan. Berulang kali, sampai dia merasa seolah mati berkali-kali. Demi mempertahankan kasih sayang yang dia cari sebagai kasih sayang bapaknya.

Namun ternyata salah, bukan pengakuan baik yang dia dapat ketika mempertanyakan pengkhianatan itu. Namun perkataan buruk dan kasar yang dia terima.

“Yaudah, terserah lo mau percaya atau nggak, dasar cewek gila.”

Setelah mengatakan hal itu, laki-laki itu memutuskan kontak dengannya. Tidak ada kata perpisahan, laki-laki itu hanya menjauhi dirinya tanpa penjelasan apa pun. Persis seperti bapaknya.

Sembuh dari kesakitan itu tidaklah mudah, bayangan ibunya menangis mengetahui bapaknya berpindah hati berputar jelas. Dia mengalami hal yang sama.

Akhirnya dia sadar, dia terlalu banyak menahan, menyatu dengan keheningan. Akhirnya kehancuran itu ditangani oleh dirinya sendiri. Selang satu bulan setelah hubungan itu berakhir, Neira mendapat kabar bahwa mantan kekasihnya itu menjalin hubungan dengan orang yang Neira pertanyakan saat itu.

Namun tidak lama kemudian, dia juga mendapat kabar, bahwa mantan kekasihnya juga mendapat pengkhianatan dari perempuan yang dia pilih.

Dan dengan seenaknya, tanpa rasa bersalah, tanpa kata maaf. Laki-laki remaja itu mengabari Neira kembali, meminta untuk kembali bersama.

Luka yang belum sembuh itu seperti di korek kembali, namun Neira sudah sadar, menerima kembali tidak akan membuat dia bahagia. Dengan tegas dia menolaknya.

Tidak apa, meskipun untuk melupakan seseorang yang begitu dia sayangi itu sulit, namun lebih sulit jika dia terus di bodohi seperti itu.

Terkadang dalam sepinya—dia berandai-andai, di tengah malam dia kembali merindu. Namun, tidak akan dia ulangi.

Kejadian itu membuat dia bertekad. Dia akan menjadi perempuan yang menyuarakan apa yang tidak dia suka. Dia akan menetapkan batasan dengan tegas. Karena jika dia sudah mencintai—itu tidak akan setengah-setengah.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Previous Chapter

Suka ( 0)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Chapter List