Customer Service

After All

Bab 2 dari 3

Bab 1 Bab 3
100%

Bab 2: Simfoni Senja

Not yet available in the requested language -- showing the original version.

Di sudut kanan perpustakaan yang lengang, Senja duduk termenung. Kursi kayu yang didudukinya menghadap jendela besar, menyuguhkan pemandangan taman kampus dengan dedaunan yang bergoyang pelan diterpa angin.

Dari balik kaca, air mancur di taman mengalir dengan gemericik halus. Sesekali, cahaya matahari memantul di permukaan air, menciptakan kilauan yang seharusnya menenangkan. Namun, Senja hanya menatapnya tanpa benar-benar memperhatikan.

Beberapa saat kemudian, ia mengalihkan pandangan dan menunduk. Tumpukan buku kuliah di atas meja bahkan belum sempat disentuh. Napas panjang kembali lolos dari bibirnya. Ujung jemarinya mengetuk permukaan meja, sekali, dua kali, lalu berulang dengan irama tak beraturan.

Di tengah lamunannya, sebuah suara yang sangat dikenalnya terdengar dari balik deretan rak buku. Ketukan jemari Senja terhenti. Punggungnya menegang, sementara kepalanya tetap menghadap meja. Ia mengenali suara itu bahkan sebelum percakapan di antara mereka terdengar jelas.

“Hari Sabtu Baskara main sama Senja, ya, Sinta?” tanya seorang perempuan.

“Iya,” jawab Sinta ketus sambil membanting buku ke atas meja.

“Kamu nggak cemburu?”

Sinta berdecak. “Emangnya kalo aku cemburu, Senja menjauh dari Baskara? Nggak, kan?” Ia melipat tangan di depan dada, lalu tertawa sinis. “Lagi pula, aku tahu diri. Yang duluan kenal Baskara itu dia, bukan aku, Diana.”

Jemari Senja kembali mengepal di atas pangkuannya. Rahangnya mengeras. Beberapa mahasiswa di meja sekitar mulai melirik, membuatnya semakin tidak nyaman. Ia menarik napas, menahan diri untuk tidak menoleh.

“Tapi, kan, kamu pacarnya, Sinta,” timpal Diana.

“Emang.”

Sinta terdiam sejenak. Kemudian, ia memiringkan tubuh dan sengaja mengarahkan pandangan ke tempat Senja duduk. Sudut bibirnya terangkat. “Masih bisa aku tahan, kok. Kalau udah jadi istrinya, baru aku larang. Kasihan, kan, tuh orang, nggak punya teman,” ucapnya sengaja mengeraskan suara.

Sinta berbalik dan melangkah pergi. Hentakan sepatunya terdengar jelas di antara rak-rak buku yang sunyi.

Senja baru mengembuskan napas setelah sosok itu menghilang dari pandangan. Kepalan tangannya perlahan terurai. Ia menatap koridor perpustakaan, lalu mendengus pelan. ‘Ada saja orang yang salah paham.’

Sreettt!

Decit kaki kursi yang bergesekan dengan lantai membuat Senja menoleh. Di hadapannya, seorang wanita berhijab hitam dan bergaun krem muncul dengan gusar. Ia langsung duduk dengan punggung tegak, mencoba mengatur napasnya yang memburu.

“Disindir lagi?” tanyanya tanpa basa-basi.

Senja mengangguk. “Iya, Rhea.”

Rhea langsung mencondongkan tubuh. “Gara-gara kamu main sama Baskara?” bisiknya.

Senja kembali mengangguk.

Rhea mengacungkan telunjuk tepat di depan wajahnya. “Lagian, ngapain, sih, kamu masih main sama Baskara? Kayak nggak ada teman lain aja di kampus ini!”

Senja mengembuskan napas jengah. “Aku, kan, nggak berdua saja, Rhe. Ada Bang Damar juga.”

Rhea mengangguk cepat sambil mengibaskan tangan. “Aku tahu. Aku juga lihat status WhatsApp kamu.”

“Nah, itu kamu tahu,” balas Senja singkat.

Rhea menyandarkan punggungnya. Kedua tangannya terlipat di depan dada. “Ish, nih orang. Udah tahu Sinta orangnya kayak gitu, kok bisa-bisanya kamu masih dekat sama Baskara?”

“Aku dekat sama Baskara sebatas abang-adik, Rhea. Nggak ada perasaan apa pun.” Senja menggeser salah satu bukunya, lalu menatap Rhea. “Kalaupun iya, sudah dari awal aku confess dan nggak setuju dia pacaran sama Sinta.”

“Terus, dia kenapa segitunya sama kamu, Senja?”

Senja mengangkat bahu. “Entahlah. Aku juga nggak tahu.”

Rhea diam sejenak. Sorot matanya perlahan melunak, menatap sahabatnya dengan iba. “Di asrama, kamu sampai digosipin jadi perusak hubungan orang, tahu,” ucapnya pelan.

“Biarin aja.” Senja memalingkan muka, lalu sudut bibirnya terangkat. “Bang Baskara juga lebih banyak luangin waktu buat Sinta. Kalau aku chat, pasti yang dibahas nggak jauh dari perempuan itu.”

Senja meraih novel karya Tere Liye Tentang Kamu yang tergeletak di atas meja. Aroma kertas tua yang samar dan khas segera menguar, menyambut indra penciumannya saat ia membuka halaman yang telah ditandai. Di perpustakaan yang hening ini, hanya terdengar suara dengung halus dari mesin pendingin ruangan dan gesekan lembut jemarinya saat membalik lembaran kertas. Ia berusaha membenamkan diri di balik barisan kata, mencoba melarikan diri dari pikirannya yang semakin runyam.

“Dia chat kamu lagi?” tanya Rhea tiba-tiba.

Jari Senja berhenti di sudut halaman. Ia menoleh. “Nggak.” 

Rhea membelalak kedua matanya. “Serius?”

Senja hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.

“Dia nggak komen status kamu sama sekali?” tanya Rhea sekali lagi.

Kali ini Senja tidak langsung menjawab. Matanya kembali jatuh pada halaman di hadapannya. Satu kalimat sudah dibacanya entah untuk yang keberapa kali, tetapi tak satu pun kata yang benar-benar masuk ke pikirannya.

Senja menutup buku itu. “Nggak.”

Rhea melirik ke samping sambil mengembuskan napas kesal. “Wah, benar-benar gila tuh laki.” Ia kembali menatap Senja. “Kamu masih nunggu dia?”

Senja kembali menggeleng. “Aku nggak tahu,” gumamnya lirih.

Tak! 

Rhea memukul meja kayu itu dengan kencang, membuat beberapa mahasiswa di meja sebelah menoleh ke arahnya. Dengan dahi yang berkerut jengkel, ia mengomel, “sumpah, ya ... kamu benar-benar minta dijitak, tahu. Move on aja kenapa, sih?”

Senja tertawa kecil. Pandangannya turun pada jemari yang saling bertaut di atas meja. “Emangnya kamu sendiri udah move on dari dia?”

Rhea terpaku. Tangannya bergerak gelisah, memainkan ujung lipatan halaman buku di depannya. “Kenapa, sih, masalah percintaan kita aja bisa sama?” 

Senja mengetuk sampul novel dengan ujung jarinya. “Sesama yang belum move on, sebaiknya jangan sok menasihati,” ucapnya datar.

Rhea mendengus, lalu menyandarkan kepalanya ke meja dengan lesu. "Habisnya, capek tahu, Senja. Kita kayak dua orang bodoh yang betah mikirin laki-laki itu.”

Senja terdiam sejenak. Kemudian, sudut bibirnya terangkat tipis. “Ya, gimana lagi. Ngomong doang gampang, Rhe. Praktiknya yang susah dan bikin gila.”

Rhea menatap Senja, lalu mengembuskan napas panjang. “Yaudahlah. Daripada pusing memikirkan ini terus, mending kita makan di Mujigae.”

Senja mengerutkan kening. “Mujigae? Di mana?”

“Di Mal Botani,” sahut Rhea.

Senja mengerjap, lalu seulas senyum jahil langsung merekah di bibirnya. “Lho, emang kamu punya uang?” tanyanya sembari terkekeh pelan.

Rhea bangkit berdiri, menatap Senja dengan wajah bersungut-sungut. “Emang kurang ajar kamu, ya, Senja!”

Senja tertawa lepas. Wajahnya yang sempat muram kini kembali cerah. “Jadi, cuma kita berdua?”

Rhea mendengus sambil membetulkan letak kacamatanya. “Nggak. Pramudya juga ikut. Kebetulan dia juga ngajak makan di sana.”

Senyum Senja seketika menghilang. “Hah? Pramudya ... ikut?”

Rhea kembali duduk dengan santai. Jemarinya merapikan ujung kerudung. “Hmm. Bahkan dari tadi dia udah duduk di belakangmu.”

Senja sontak menoleh. Di meja belakangnya, Pramudya tengah duduk santai dengan kemeja merah marun yang dikenakannya. Sebuah ponsel tergenggam di tangannya. Sepasang mata laki-laki itu menatap Senja dengan binar jenaka, menyunggingkan senyum tipis lalu melambaikan tangan.

“Sejak kapan kamu di sana, Pram?” tanya Senja.

Pramudya menopang dagu dengan satu tangan sambil menatap lurus ke arah Senja. “Sejak ... kamu digosipin Sinta.”

Senja tertawa pelan. “Wah, benar-benar kamu, ya!” ucapnya sambil mengacungkan pulpen ke arah Pramudya.

Pramudya terkekeh, lalu sorot matanya melembut. “Jadi, kamu mau ikut atau nggak?”

Senja terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk cepat dengan senyum yang merekah lebar. ?“Mau!”

Ketiganya berjalan beriringan meninggalkan perpustakaan, melewati area parkir menuju gerbang luar kampus. Senja memilih berjalan paling belakang. Sesekali ia menyunggingkan senyum, menikmati keakraban Rhea dan Pramudya yang diwarnai perdebatan kecil tanpa habisnya.

Langkah mereka berhenti di tepi jalan raya yang mulai ramai. Sambil menunggu angkutan umum lewat, Senja berulang kali menyembunyikan tawa, begitu mendengar celetukan konyol yang meluncur spontan dari mulut Pramudya. Udara sore yang panas terasa lebih sejuk berkat tawa sepasang sahabatnya.

Tak lama kemudian, sebuah angkot hijau kusam nomor 05 berhenti di depan mereka. Rhea dan Pramudya lebih dulu naik ke dalam kendaraan yang masih sepi. Senja menyusul beberapa saat kemudian. Namun, baru saja satu kakinya menginjak besi pijakan, ponsel di genggamannya bergetar.

Bzzzt.

Langkah Senja seketika terhenti. Ia menundukkan kepala, lalu menatap layar ponsel yang baru saja menyala. Cahaya dari layar menerangi ujung jemarinya, sementara tatapannya terpaku pada notifikasi yang masuk. Tangannya yang masih menggenggam pinggiran pintu angkot perlahan mengendur. Namun, Senja tetap diam di tempatnya.

"Ayo, Neng! Naik, jangan bengong di pintu," teriak abang angkot dari kursi kemudi, disusul satu klakson yang berbunyi kencang.

“Senja! Ayo naik!” teriak Rhea dari dalam angkot.

"Ja? Kenapa?" Pramudya yang duduk di dekat pintu ikut memanggil, dahinya berkerut menangkap perubahan drastis pada ekspresi gadis itu.

Namun, Senja tidak menjawab. Rentetan suara di sekitarnya terdengar semakin jauh. Angin sore yang tadi menerpa wajahnya tak lagi terasa, begitu pula panas jalanan yang sejak tadi menyengat kulit. Jemarinya justru terasa dingin.

Sebuah nama terpampang di layar ponselnya. Napas Senja tercekat. Dadanya naik turun lebih cepat, sementara ibu jarinya membeku di sisi ponsel. Ia mengedip sekali, lalu sekali lagi, seolah ingin memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukan sekadar kesalahan pada layar.

Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di ambang pintu angkot. Tangannya masih menggenggam pinggiran pintu, tetapi jemarinya perlahan menegang kembali. Suara kendaraan yang berlalu-lalang, panggilan Rhea dan Pramudya seolah menghilang begitu saja.

Senja tak segera membuka notifikasi itu. Ia hanya membiarkan layar tetap menyala di hadapannya, sementara detak jantungnya terus berpacu.

Nama itu kembali muncul setelah sekian lama.

Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Previous Chapter Next Chapter

Suka ( 2)
Komentar ( 1)
Rahasia · 18 Sep 2026 21:40

Siaaaaapppa? Aku penasaran

Chapter List