Customer Service

Baratayudha: Kubalas Dendam Mamak

Bab 1 dari 30

Bab 2
100%
Memeriksa iklan...

Bab 1: Lelaki yang Dirindukan

Belum tersedia dalam bahasa yang diminta -- menampilkan versi asli.

Suara burung besi mengiringi langkah Bapak sore itu. Kami berlari menyambut Bapak diiringi hilangnya burung itu dari mataku. Aku masih berusia 11 tahun saat mendekap erat tubuh Bapak dengan penuh kerinduan, seperti melompat ke dalam lumpur, tenggelam begitu berat, aroma kopi di tubuhnya masih terngiang sampai sekarang. Air mata adikku pecah, jeritan suaranya meminta mainan, dan kalimat rindu membuatku mengalah akan pelukan Bapak.

Setelah meletakkan Saras, adik perempuanku dari gendongannya, barulah dia memelukku.

Lima tahun setelah merantau, Bapak akhirnya pulang. Dia membawa sebuah kotak berisikan buku, tas, sepatu baru, dan mainan, juga tas selempang kecil yang dia kenakan. Bapak tak membawa koper atau tas pakaian seperti yang biasa dibawa orang ketika pulang pada umumnya. Bapak juga tidak membawa hadiah untuk Mamak yang ketika itu menangis menyambutnya di bibir pintu.

Bahkan, setelah tiba di hadapan Mamak, Bapak hanya membiarkan Mamak mencium punggung tangannya. Bapak masuk ke rumah, duduk di atas bale bambu, lalu mengeluarkan semua isi mainan, sementara Mamak beranjak ke dapur, lalu kembali lagi mengantarkan kopi untuk Bapak.

Senyum Bapak utuh untukku dan Saras, tapi mendadak kosong saat melihat Mamak yang sorot matanya saat itu juga dipenuhi air mata kerinduan.

"Hadiah buat Mamak mana, Pak?" tanyaku, seraya menggenggam erat tas sekolah pemberian Bapak.

Bapak tersenyum, mengeluarkan sesuatu dari tasnya, segepok uang. Mamah terkejut, matanya berair, dan refleks dia melompat memeluk Bapak.

"Banyak sekali, Pak," kata Mamak, penuh haru.

Bapak menghela napas.

"Bapak ‘kan tiap bulan kirim uang, ini apa enggak kebanyakan, Pak?" tanyanya lagi.

Aku tak tahu jumlahnya, tapi yang jelas setumpuk lembaran abu-abu bergambar Presiden Soeharto kala itu menjadi petunjuk buatku, jika tumpukan uang itu sangatlah banyak.

"Buat renovasi rumah sama pendidikan anak," kata Bapak. Mamak tersenyum.

Senyuman Mamak kala itu seperti seseorang yang disinari mentari pagi setelah sepanjang malam kabut mengepung raga. Senyum Mamak, seperti aroma tanah saat hujan, menyejukkan.

Lelaki bermata teduh yang selalu menjadi tokoh favoritku itu ikut tersenyum, kemudian menepuk pundakku.

"Kamu ke kamar dulu sama adikmu ya. Bapak mau bicara sama Mamak," katanya.

Aku mengangguk, menurut, kemudian mengajak Saras ke dalam. Di dalam, Saras sibuk membongkar mainan Barbie-nya, sementara aku sibuk memakai sepatu, kemudian memasukkan buku baru ke dalam tas. Kami kelelahan saking senangnya.

Sampai akhirnya senang itu dipatahkan suara sesenggukan yang kukira akan pergi setelah kepulangan Bapak. Mataku mengerjap, desahan napas Mamak terdengar seperti desis ceret saat mengeluarkan uap.

 

Sinar mentari menerobos masuk ke sela-sela jendela kamar, aku tergeragap, tak biasanya Mamak membiarkan kami terlelap sampai terang. Barangkali Mamak sedang bahagia, saking bahagianya, dia membiarkan subuh melewati tempat kami tidur.

Kuusap wajah dan bangkit dari duduk, kemudian berlari ke kamar Mamak, ingin bertemu Bapak, saking rindunya. Tapi perlahan langkahku melambat saat melihat Mamak terduduk diam di ranjang besi miliknya yang sudah lama terasa dingin seperti musim hujan. Mamak menunduk, sinar mentari menyinari wajahnya. Dia tersedu, di tangannya setumpuk uang yang lebih banyak dari semalam. Aku merambat ke ranjang Mamak.

"Bapak mana, Mak?" tanyaku.

Mamak diam.

"Mak," lirihku. Dia masih diam. Dia menyapu wajahnya dengan punggung tangan, kemudian menatapku.

Dia mengulurkan tangannya, aku meraihnya. Setelahnya, dia memelukku erat, mengecup ubun-ubunku, lalu merengkuh wajahku.

"Bapak mana, Mak?" tanyaku, lirih. Gemetar ketika menatap sorot mata Mamak yang teduh, tapi menakutkan bagiku.

"Bapak sudah pergi lagi," katanya.

"Bapaaak!" teriakku. Mamak menahan bahuku.

"Biarkan Bapak pergi, kita bisa hidup tanpa Bapak, Yudha."

"Lepas! Bapaaak!" Aku mengempaskan tangan Mamak, lalu berlari.

Teriakanku membuat Saras ikut keluar dari kamarnya.

"Bapak ...," lirih Saras seraya mengucek mata dengan dua kepalan tangannya.

Dengan cepat aku membuka pintu, kemudian berlari keluar, Saras mengikuti. Kami berteriak-teriak memanggil Bapak, tapi sayangnya, Bapak tak meninggalkan apa pun, bahkan sedikit bayangannnya tak terlihat di pelupuk mata.

Saras berteriak histeris, menangis dia di atas tanah seraya mendekap erat boneka pemberian Bapak. Sementara aku menangis, menatap ujung jalan dengan harapan Bapak kembali lagi.

Satu menit. Dua menit. Aku berdiri di sana, Bapak tak kunjung datang. Sampai perlahan bisa kurasakan jemari Mamak meraih tanganku. Aku mengempaskannya lagi, kemudian memukul-mukul tubuh Mamak sebelum akhirnya wanita itu menangis, lalu memelukku.

"Yudaaa mau Bapaak!" teriakku, histeris.

"Dengar mamak, Yudhaa!" bentaknya, sambil merengkuh wajahku.

"Apa yang Bapak ajarkan saat terakhir Bapak pergi?" tanyanya, aku diam.

"Jawab mamak?" tanyanya lagi, ketus.

"Selama tidak ada Bapak, Yudha yang akan jadi imam untuk ibu dan adik, kan? Benar, tidak?" tanya Mamak, berderai air mata. Saras menangis, menarik-narik lengan pakaian Mamak. Aku diam menatap wajah Mamak lamat-lamat.

"Yudha harus mengerti, Bapak tidak bisa tinggal di rumah ini lagi. Mamak dan Saras cuma punya Yudha sekarang."

Aku beringsut.

"Enggak! Enggak! Yudha enggak mau jadi imam! Yudha mau Bapak!" teriakku, menangis.

Aku berlari meninggalkan Mamak dan Saras yang tangisannya sudah tak mampu terbendung lagi. Langkahku kian kencang dan cepat, kuterabas setiap pepohonan trembesi, mengejar setiap kendaraan yang lalu-lalang melintas di jalan sambil berteriak-teriak memanggil Bapak.

 

 

-II-


Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya

Kutipan dari paragraf yang Anda klik -- edit dulu kalau perlu (bisa dipersempit ke kalimat/kata tertentu), lalu bagikan.

0 / 500
Bagikan ke:
Bab Selanjutnya

Suka ( 1)
Komentar ( 0)

Belum ada komentar.

Daftar Bab