Baratayudha: Kubalas Dendam Mamak
Bab 2 dari 30
Belum tersedia dalam bahasa yang diminta -- menampilkan versi asli.
Lelaki pulang membawa kebahagiaan, tapi Bapak pulang mendatangkan kesedihan. Kami menangis seharian, berminggu-minggu seperti orang-orang yang mengadakan tahlilan. Tak ada bendera kuning terbentang, tapi raga Bapak seolah seperti mati ditelan bumi.
Mamak tak pernah menjawab, kenapa, ke mana Bapak pergi? Wanita yang sehari-harinya merawat kami dan menjadi petani cabai itu kini terlalu sering diam, termangu di bale-bale pekarangan rumah. Tak kenal pagi atau petang, Mamak tetap sama. Senyumnya tetap terangkat, tapi binar matanya berembun kosong.
Wanita itu selalu berbohong setiap kali kami menanyakan Bapak. Alasan yang dibuat-buat selalu saja dia keluarkan demi membuat hatiku, terlebih Saras bahagia.
Aku terlalu muda untuk memahami perasaan Mamak. Yang aku tahu saat itu, Bapak pergi karena Mamak. Entah apa yang terjadi di antara mereka, yang jelas hanya Mamak yang tahu mengapa Bapak pergi.
"Bapak pergi pasti gara-gara Mamak minta uang terus sama Bapak!" teriakku, sehari setelah kepergian Bapak, beberapa hari sebelum Mamak memutuskan jadi petani cabai.
Mendengar itu Mamak diam, air matanya mengalir. Mbok Gisum, tetangga kami, langsung meraih tubuhku dan mengajakku keluar meninggalkan Mamak yang terlihat begitu emosi menatapku.
"Kamu ndak boleh berkata begitu, Yudha. Ibumu meminta uang ke bapakmu karena itu sudah kewajiban bapakmu. Lagian uang yang diminta ke bapakmu itu untuk kamu dan Saras!" seru Mbok Gisum, aku tersedu.
"Kowe ‘kan anak pinter, aja gawe ibumu bersedih. Melas ibumu, Nak."
Kata orang, anak lelaki pertama akan mengikuti sikap ibunya. Tapi tidak denganku. Aku selalu ingin jadi Bapak. Lelaki yang selalu ada dan menjagaku saat aku seusia Saras. Barangkali kesedihanku dua kali lipat dibandingkan Saras. Karena aku sudah terlalu banyak punya kenangan bersama Bapak. Berbeda dengan Saras yang ditinggalkan Bapak saat usianya mau dua tahun.
Aku termenung, bermain seharian, tak pulang. Sampai perut lapar, barulah aku teringat Mamak. Aku pulang dalam keadaan perut kosong. Mamak sedang menimang Saras yang lelap di pelukannya. Begitu melihatku, dia hanya mengembuskan napas, kemudian masuk ke rumah kami yang lantainya sebagian belum dikeramik, masih tanah liat, yang ketika hujan akan mengotori sebagian lantai rumah kami yang lain.
Terakhir, sebelum Bapak benar-benar pergi meninggalkan kami, dia masih dengan sangat gagah memasang tegel di rumah, dinding yang dulu terbuat dari anyaman bambu pun sebagian sudah menjadi bata merah. Bapak yang membuat bata merahnya, dia juga yang mendirikan.
Dengan senyum lebar, Bapak menunjukkan kamarku.
"Senang, Nak?"
Aku histeris saking bahagianya, kemudian memeluk Bapak.
Sampai suatu hari, Bapak memutuskan bekerja di kota. Demi mengangkat harkat derajat keluarga kami. Itu katanya ketika kami tersedu melepasnya.
"Apa kalian tak mau hidup enak?" tanya Bapak kala itu di pematang sawah saat makan siang. Masih kuingat Bapak menuangkan air untukku, kemudian tersenyum.
"Bapak akan ke kota, cari uang di sana! Buat kalian!" tambahnya lagi.
"Tapi kita sudah cukup kok, Pak," balas Mamak.
"Apanya yang cukup? Makan nasi sama tempe?" tambahnya.
"Buat beli ayam, kita harus menunggu setidaknya seminggu sekali, makan daging, menunggu Iduladha! Apa yang cukup, Mak? Kita tak bisa mengandalkan bantuan pemerintah terus! Kita harus mengubah nasib kita sendiri, nasib anak-anak."
Kami menghela napas. Aku merasa bangga pada Bapak, terlebih ketika dia mengusap kepalaku dan mengatakan, "Anak kita harus sekolah tinggi!"
"Memangnya Bapak ada kerjaan di Jakarta?" tanya Mamak, ragu.
"Ada, jadi supir. Kasno yang infokan, gajinya lumayan, empat jutaan."
Mamak menghela napas.
"Sejujurnya, empat juta itu tak sebanding dengan kehadiran Bapak di sini," kata Mamak.
Bapak merengkuh pipi Mamak. Seraya tersenyum, Mamak merebahkan kepalanya di atas bahu Bapak, dan menangislah Mamak.
Ada hal yang harus dikorbankan demi mencapai sesuatu yang ingin digapai. Perbincangan hangat itu adalah terakhir kalinya, karena esoknya Bapak benar-benar berangkat.
Dua koper besar sudah dia persiapkan, berisikan berkas-berkas sekolahnya, juga pakaian. Hanya Pakaian bertani Bapak yang ditinggalkan di rumah. Kami melepas Bapak kala itu dengan air mata dan sejuta impian yang tergambar nyata di angan-angan. Barangkali setahun lagi Bapak akan pulang dan membawa kami ikut bersamanya, atau membangunkan rumah untuk Mamak, atau barangkali Bapak akan pulang membawa mobil, kemudian membawa kami sekeluarga jalan-jalan ke Bukit Kemuning, atau Telaga Sarangan. Aku tidak sabar menantinya.
Tapi sayangnya, Bapak berbohong. Bapak mematahkan janjinya sendiri. Bertahun-tahun aku duduk di bale-bale depan rumah, menunggu kehadiran Bapak, tapi dirinya tak kunjung datang.
"Bapak hanya kirim uang dan titip pesan buat kamu, Nak," kata Mamak. Aku kecewa.
"Yang sabar ya, Lek. Bapakmu mesti pulang," kata Mamak. Aku mengangguk sedih.
Lima tahun Bapak tidak pulang, dan kini setelah kepulangannya, aku hanya diterbangkan sesaat, kemudian dibanting ke bumi begitu keras. Bapak meninggalkan aku dan Saras tanpa kata-kata, bahkan pamit. Menangis aku di atas tanah, hitam legam telapak kakiku, berdarah kedua lutut karena terbentur batu jalanan, mengejar, dan memanggil-manggil Bapak. Tapi dia tetap tak kembali.
Bapak adalah pendusta hebat, dia tak hanya mematahkan janjinya, tapi juga mematahkan hati kami yang begitu dalam mencintainya. Ketika mentari berada persis di atas kepala, barulah aku bangkit, pasrah dan kulepaskan Bapak, berharap dan yakin Bapak akan kembali pulang.
Mamak menungguku di bibir pintu dengan wajah sendu, kelopak matanya tebal, hitam, tapi hanya kekecewaan yang kurasakan kala melihat Mamak. Entah dari mana datang perasaan itu, yang jelas pikiranku terus saja mengatakan jika Bapak pergi karena Mamak. Pasti karena Mamak.
"Makan dulu, Lek." Mamak meraih tanganku, tapi kuempaskan. Aku berlari ke kamar, membanting pintu, dan menangis di sana.
Kepergian Bapak telah mengubah manusia jadi batu, aku seperti raga tanpa ruh yang tak mampu memikirkan apa pun, kecuali makanan ketika lapar. Berdiam diri di kamar seraya memandang jendela yang berhadapan persis dengan gapura gang rumah kami. Setelah lelah, barulah aku terlelap. Berhari-hari aku tak sekolah, karena kukira harapanku telah pupus. Suara-suara Saras bermain di luar bersama teman-teman tak mampu membuat semangatku pulih. Hingga akhirnya wanita yang wajahnya kini telah berubah gelap karena disiram matahari di kebun cabai itu, menarikku ketika subuh.
"Bangun! Bangun, Lek!" teriak Mamak dengan suara murka menggelegar. Membangunkan Saras, juga binatang ternak di sekitar kami. Dia menarik tubuhku sampai ke kamar mandi. Aku histeris menangis, tapi Mamak membiarkan, dia mengguyur kepala ini sampai basah seluruh tubuhku.
"Jangan, Mak. Kasihan Mas Yudhaa!" teriak Saras, menangis.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini?!" bentak Mamak. Dengan wajah pucat dan mata merah, dia merengkuh wajahku. Aku menangis.
"Mau sampai kapan?! Kamu anak lelaki, Yudha! Harapan mamak dan adikmu! Mandi dan pergi sekolah!" teriaknya.
Aku beringsut dan mendorong Mamak.
"Yudha bukan kepala keluarga! Yudha enggak mau jadi imam!" bentakku.
Mamak diam.
"Gara-gara Mamak, Bapak pergi! Bapak capek kirim uang banyak untuk Mamak!" Aku kembali menuduh Mamak setelah cukup lama kami sama-sama diam. Mamak menatapku dengan wajah setengah bengis. Napasnya tersengal.
"Bapak masih kirimkan uang untuk Mamak, kan?!" tandasku lagi. Dia semakin diam.
"Kenapa Mamak egois?! Di mana Bapak?!"
PLAK! Tamparan keras itu melayang di wajahku. Mamak tersengal, gemetar dia menatap telapak tangan yang telah melukaiku. Setelahnya dia menangis histeris dan memukuli tubuhnya sendiri dengan tangan yang sama.
Kami sama-sama menangis, belum pernah rumahku ditenggelamkan kesedihan seperti hari itu. Tubuh Mamak roboh, dia bersandar di kusen pintu, tangannya terkepal, memukul-mukul lantai. Saras mendekatinya, menciumi ibunya. Sementara aku berdiri tak jauh darinya, tersedu.
"Kamu mau bertemu bapakmu?" tanyanya dengan mata basah dan sendu. Aku diam.
"Cari bapakmu," katanya, memelas. Aku tak paham. Mamak bangkit, Saras menggenggam pucuk baju Mamak. Mereka ke kamar, setelahnya Mamak kembali lagi dengan membawa segenggam uang.
"Usiamu sudah 13 tahun. Mamak yakin kamu bisa pergi sendiri ke rumah budemu. Bude yang akan menjawab pertanyaanmu," katanya seraya meletakkan beberapa lembar uang di atas meja.
"Saras sekolah, ya," kata Mamak pada adikku. Setelahnya, Mamak mengambil caping yang sehari-hari dia gunakan. Mereka pergi meninggalkanku begitu saja.
Air mataku mengalir, tanganku gemetar, kulihat beberapa lembar uang dan membayangkan rumah bude yang tak jauh dari kediaman kami.
Barangkali, ini cara untuk memutus setiap pertanyaanku. Pertanyaan ke mana Bapak pergi? Kenapa Bapak pergi lagi dan banyak hal.
Tak perlu menunggu lama, aku bergegas ke rumah bude. Berbeda dusun dengan kami, hanya sekitar 15 kilometer dari rumah tempatku tinggal. Dengan berjalan kaki, aku bergegas ke tempat bude, melintasi pematang sawah, melewati beberapa aliran irigasi yang jernih airnya. Setiba di jalan raya besar, aku melanjutkan perjalanan dengan angkot, sampai akhirnya tiba di kediaman bude yang rumahnya tak jauh dari pasar. Bude punya kios pakaian di pasar, yang kudengar juga setelah kepulangan Bapak, usaha bude semakin lancar.
Bude terkejut saat melihatku. Pakde bergegas membukakan pintu, mereka menyuruhku duduk di kediamannya yang sudah jauh lebih baik dari kami. Tegelnya dari keramik, terasa dingin bila dipijak, dindingnya berwarna putih dengan hiasan figura dan dua kendaran motor terparkir di dalam.
"Mau apa kamu ke sini, Lek?"
"Yudha ingin ketemu Bapak, Bude."
Bude menghela napas.
"Makanya bilang ke ibumu, jadi orang jangan sombong! Kalo ibumu terima uang bapakmu, kamu enggak akan kesulitan seperti ini!"
"Uang Bapak?"
Bude membuang wajah.
"Memangnya kenapa Mamak menolak uang Bapak?"
"Ya tanya mamakmu, lah!" serunya lagi.
"Bapak memang ke mana, Bude?"
Bude membuang wajah. Tangannya terlipat di dada, selongsong emas di pergelangan tangan seolah sengaja dia tunjukkan padaku.
"Bapakmu sibuk! Tak bisa diganggu!"
"Yudha kangen Bapak."
Aku tak tahu kenapa Bude tak berani menatap wajahku, sorot matanya selalu menghindariku, seperti lantai dan dinding.
"Bude ...," lirihku.
"Memangnya, kenapa? Ibumu tak bisa merawat kamu?" tanyanya, ketus. Aku menggeleng.
"Yudha ingin tanya kenapa Bapak pergi?"
"Memangnya ibumu tak kasih tahu?"
Aku menggeleng.
"Nanti bude minta bapakmu telepon kamu, ya."
Aku menggeleng lagi.
"Yudha ingin bertemu!" tandasku, kemudian.
"Minta ke ibumu sana!"
"Ibu ndak kasih!"
Bude menyeringai.
"Terus kamu mau menemui bapakmu sama siapa?"
"Bude."
"Moh!"
"Yudha bisa sendiri!" kataku, yakin.
Bude tertawa. "Lek, Jakarta itu jauh! Kowe ngerti ora?"
Bude tertawa.
"Yudha cari," kataku.
"Kasih ajalah, Bu! Toh juga belum tentu berangkat!" sambung Pakde yang terlihat sibuk dengan burung peliharannya di pekarangan.
"Nanti malah buat onar!"
"Kasih saja, mana bisa dia pergi sendiri," kata Pakde lagi.
"Yo wis lah!" Sambil menghela napas dan menggelengkan kepala, Bude menuliskan alamat dan dia sodorkan padaku.
Bude barangkali mengira aku benar-benar tak berangkat. Anak 13 tahun bagaimana bisa berangkat ke Jakarta sendirian. Bocah yang sehari-harinya makan masih disajikan, bagaimana bisa ke Jakarta? Tapi Bude lupa, jika aku berangkat dari rumah menuju kediamannya adalah berkat keberanianku yang tak seberapa.
Kukepal alamat yang diberikan Bude. Setiba di rumah, aku masuk ke kamar. Mamak hanya mengetuk pintu kamar. Setelah kubuka, sepiring nasi lengkap dengan lauk pindang bandeng kesukaanku sudah terhidang di atas meja dengan segelas teh manis hangat di sampingnya.
Aku menangis, perlahan aku merambat ke kamar Mamak, dan mengintipnya dari balik tirai yang sesekali tertiup angin. Mamak sedang berdoa di atas sajadahnya, sementara Saras terlelap di ranjang. Betapa ingin aku meminta maaf pada Mamak, tapi egoku masih menuntutku mencari Bapak.
Melangkah perlahan aku ke meja makan, setelahnya kulahap dengan cepat makanan Mamak yang lezatnya mungkin akan selalu kuingat sampai akhir hayat. Setelahnya kembali ke kamar, kuperhatikan alamat Bapak di Jakarta, kubuka atlas dan meyakini aku bisa membawa Bapak pulang.
Malamnya aku beberes, menyiapkan beberapa bekal perjalanan, dan pagi setelah adzan subuh, aku langsung berangkat. Keluar lewat jendela kamar, kemudian berlari ke luar rumah. Begitu mobil pick up pengangkut ternak melintas, aku langsung berlari mengejar dan menumpang di atasnya, duduk bersama kambing dan domba yang akan dibawa menuju pasar dekat stasiun kereta Jebres.
Yudha pamit pergi, Mak, menjemput Bapak.
-II-
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya