Longgar Wahyudi Triasmoro, Ph : 0811264208, Email: longgarwahyudi65@gmail.com
Raka bangun jam empat lewat. Sebelum azan. Dia duduk di ujung kasur, kaki telanjang nempel lantai semen. Dinginnya merambat pelan sampai betis. Ada bunyi tokek di dinding. Dia enggak tahu dari mana.
Hari ini rapor akan dibagikan.
Dari dapur, suara piring beradu. Bau telur dadar. Bau kopi. Biasanya dia yang paling cepet turun kalau nyium bau itu. Sekarang, perutnya kenyang sebelum makan.
"Raka!"
"Iya, Bu."
"Turun. Sarapan."
Ayah udah duduk di meja. Di hadapannya ada segelas kopi, asapnya mengepul, menebar aroma wangi. Sambil menatap layar HP. Grup kerja, mungkin. Raka nggak tahu. Dia tarik kursi. Ayah nengok sebentar. Terus balik ke layar HP lagi.
"Jam sembilan, kan?"
"Iya. Pembagian rapor."
Ayah mengangguk. "Gimana semester ini?"
Raka ambil nasi. Sendoknya mengaduk-aduk nasi putih. "Ya... lumayan."
"Lumayan gimana?"
Raka tersenyum kecil. Bibirnya bergerak, matanya enggak. "Ya lumayanlah, Yah."
Ayah menyeruput kopi, pelan. "Nilainya naik?"
Sendok berhenti. "Belum tahu."
"Oh." Ayah menaruh cangkir di meja. Tokkkk…bunyi cangkir porselin ketemu kayu. "Kalau udah dapat, kasih lihat ke Ayah ya ."
"Iya, Yah."
Cuma itu yang ayah katakan. Enggak ada kalimat “yang penting kamu sudah usaha “. Cuma: “ kasih lihat ke Ayah ya ".
Raka menunduk, mengaduk nasi lagi. Ibu menyelipin telur ke pinggir piring. "Makan yang banyak ya Raka ". Raka mengangguk
Dia masih inget semester lalu. "Ranking berapa?" "Lima belas, Yah." Ayah cuma mengangguk. Terus pergi. Enggak marah, nggak kecewa, cuma pergi. Sejak itu, angka lima belas nempel di kepala. Ayah enggak marah, justru itu masalahnya. Kalau Ayah marah, Raka bisa mengerti. Tapi Ayah cuma mengangguk
, terus pergi.
Selesai mandi, Raka mengambil tas. Sebelum keluar kamar, matanya berhenti di meja belajar. Buku-buku masih terbuka. Kertas latihan penuh coretan, jawaban salah disilang. Di sudut salah satu kertas, ada bekas angka yang ditulis terus dihapus, ditulis terus dihapus, sampai kertasnya tipis dan bolong.
"Berangkat sekarang Yah? "
Ayah lagi memakai sepatu. "Ok,,hayukk".
Di motor, Raka duduk di belakang. Tangannya memegang tali tas kencang-kencang. Sampai jarinya putih. Angin pagi menyapu lembut. Di kiri jalan, sawah. Ada bapak-bapak naik sepeda, membawa cangkul di pundak. Bapak itu nggak kelihatan gugup, nggak lagi nunggu rapor.
Raka pengin menjadi seperti bapak itu. Sebentar aja. Cuma sebentar.
Lampu merah. Angkanya 43. Terus 44. Dadanya makin sesak. Telapak tangannya basah. Di lap ke celana. Enggak hilang.
Ayah menengok sedikit. "Kenapa ?"
"Nggak apa-apa."
Sekolah makin dekat. Di gerbang, ayah berhenti, Raka turun, melepas helm. Rambutnya kena angina, berantakan, nggak dirapikan. Raka mencium tangan ayah.
"Kalau udah dapat, langsung pulang aja ya "
"Iya."
Ayah menengok sebentar. "Raka."
Raka menengok.
"Kalau nilainya kurang bagus, ya diperbaiki semester depan."
Raka diam. Kalimat itu harusnya membuatnya lebih tenang. Tapi yang menempel di kepala justru bagian yang lain. Kalau nilainya kurang bagus. Berarti kemungkinan itu ada.
"Iya, Yah."
Ayah pergi. Raka berdiri beberapa detik di depan gerbang. Di dinding dekat gerbang ada papan besar buat pengumuman. Hari ini masih kosong. Nanti sore, mungkin udah enggak.
Di sebelah papan, spanduk besar: "SEKOLAH UNGGULAN — AKREDITASI A — 100% KELULUSAN PTN FAVORIT." Raka membacanya. Unggul, Akreditasi, PTN favorit. Nggak ada tulisan karakter. Nggak ada yang menulis jujur.
Di bawah spanduk, ada orang menyapu. Pak Salim. Penjaga sekolah. Seragamnya udah kusam. Punggungnya bungkuk. Sepatunya—Raka baru sadar—bolong di ujung kanan. Solnya ngelupas. Tiap kali melangkah, ujung jarinya nyentuh tanah.
Raka pernah dengar cerita Pak Salim dari senior-senior. Dulu, Pak Salim pengin jadi guru. Lulus SMA dengan nilai bagus. Tapi biaya kuliah tinggi. Bapaknya petani. Ibunya jualan kue di pasar. Jadi Pak Salim menyapu halaman sekolah selama dua puluh tahun. Sambil lihat anak-anak yang harusnya bisa jadi apa pun, asal punya duit.
Enggak ada nama Pak Salim di spanduk. Enggak ada yang bilang pengabdian. Yang ada cuma sepatu bolong.
Raka masuk halaman. Di koridor, Bu Mira berjalan ke ruang guru. Bu Mira melihat Raka, tersenyum. Tapi senyumnya enggak sampai ke mata.
Kelas belum penuh. Tercium bau kapur, bau kertas dan bau sepatu yang belum kering. Raka berjalan ke bangku kedua dari belakang, menaruh tasnya pelan-pelan. Tangannya ngerapiin buku yang udah rapi.
"Ka..."
Dimas berdiri di samping bangkunya. Tampak rambutnya masih basah.
“Kamu tahu enggak, kayaknya rapor dibagi lebih cepet. Katanya habis apel. Ranking juga ditempel di papan."
Raka menggeleng.
"Aku penasaran nilai matematikaku," kata Dimas.
"Kenapa?"
"Kayaknya jeblok."
Dimas ketawa pendek. Raka ikut ketawa. Ada satu kursi di pojok yang kosong. Kursi Sari. Anak yang tahun lalu enggak naik kelas, terus enggak pernah balik lagi. Enggak ada yang nanya, nggak ada yang mengisi. Cuma kursi kayu yang mulai berdebu.
Lima belas menit kemudian Bu Mira masuk kelas. Membawa map cokelat tebal. Suasana kelas drastis berubah. Map ditaruh di atas meja. Bunyinya keras di kelas yang mulai sunyi.
"Sudah siap?"
Beberapa anak menjawab, "Siap, Bu."
"Hari ini pembagian hasil belajar. Ibu enggak mau kalian cuma lihat angkanya. Karena nilai bukan satu-satunya cerita tentang kalian."
Raka menunduk. Kalimat itu kedengaran baik, tapi ada yang mengganjal. Dia menengok ke kursi kosong di pojok. Kalau nilai bukan satu-satunya cerita, kenapa Sari enggak pernah balik?
Bu Mira mulai membagikan rapor. "Fajar." "Ya, Bu." "Salsa." "Iya." "Dimas." Dimas maju. Balik ke bangku, kertasnya langsung dibuka di tengah jalan. "Berapa?" bisik seseorang. Dimas senyum. "Nanti." Raka lihat wajahnya. Senyum itu kecepetan.
Nama demi nama dipanggil. Tinggal beberapa. Tangan Raka mulai dingin. Dia masukin dua tangan ke bawah meja, meremas ujung celana.
"Raka."
Jantungnya berhenti sedetik. Terus berdebar lebih cepat. "Ya, Bu."
Dia berdiri. Jalan ke depan. Satu, dua, tiga langkah. Bu Mira memberikan selembar kertas.
"Terima kasih, Bu."
"Sama-sama."
Raka balik ke bangku, menaruh rapor dalam posisi terbalik. Tangannya masih di atas kertas. Dimas menengok. "Ka..." Raka enggak menjawab. "Udah?" Raka mengangguk. "Berapa?" "Belum lihat." Dimas ketawa kecil. "Takut?" Raka senyum tipis. "Iya."
Raka menarik napas, pelan, terus membalikkan rapornya. Matanya langsung mencari satu angka yang paling dia takutin. Matematika. Ketemu, 58.
Raka berhenti bernafas. Perutnya mual, telinganya berdenging. Kedip sekali, dua kali. Angkanya tetap sama, 58. Dia telusuri baris itu pakai telunjuk. Matematika, nilai 58. Jarinya dingin di atas kertas. Dia mulai ingat soal ujian, nomor tiga, nomor tujuh. Nomor sebelas yang enggak sempat dikerjain. Nomor lima belas yang dia ganti di menit terakhir. Mungkin itu salah. Mungkin semuanya salah. Mungkin bukan gurunya yang salah. Mungkin Raka memang enggak cukup.
"Ka..., berapa?"
Raka menutup lembar itu. "Belum."
"Katanya udah lihat."
"Belum semuanya."
Dia membalik halaman berikutnya. Bahasa Indonesia 72. IPA 65. Bahasa Inggris 70. IPS 68. Tapi pikirannya balik ke baris yang sama. 58.
"Ka..."
"Apa?"
"Matematika mu berapa?"
Raka diam sebentar. "Lima puluh delapan."
Dimas ngerutin dahi. "Oh." Cuma itu. Enggak ada ketawa, nnggak ada ejekan. Anehnya, justru itu yang bikin Raka makin nggak nyaman. Dia berharap Dimas ketawa. Kalau Dimas ketawa, mungkin Raka bisa ikut ketawa. Mungkin semuanya jadi lebih ringan. Tapi Dimas cuma mengangguk. Seolah-olah angka itu beneran milik Raka.
Raka lalu memasukkan rapor ke tas. Didorong ke paling dalam. Di bawah buku tulis. Di bawah tempat pensil. Di bawah buku latihan. Tasnya menjadi lebih penuh, terasa lebih berat.
Bu Mira berdiri di depan kelas. "Anak-anak, sebelum pulang, Ibu mau bilang satu hal." Kelas balik tenang. "Ibu tahu beberapa dari kalian mungkin kecewa. Tapi dengar ya." Dia berhenti. Tatapannya menyapu kelas. Sempat berhenti di Raka. Terus ke kursi kosong di pojok. Sebentar, terus balik lagi. "Nilai itu cuma angka. Ibu yang menulis, bukan Tuhan."
Beberapa anak ketawa. Raka enggak. Bu Mira senyum. Tapi lagi-lagi senyumnya enggak sampai ke mata. “Sudah, anak-anak boleh pulang."
Bel bunyi. Raka masih duduk beberapa detik. Tangannya menyentuh tas, memastikan rapornya masih di paling bawah. Terus dia berdiri.
Di koridor, papan pengumuman udah nggak kosong. Nama-nama tertulis dari atas ke bawah. Raka melihat. Matanya menyapu daftar itu sampai menemukan namanya sendiri. Di baris bawah.
Raka berdiri di depan papan. Nggak bergerak. Ada yang ketawa, ada yang diam. Dia enggak mendengarkan mereka, dia cuma melihat namanya.
Terus matanya turun ke bawah. Di bawah nama terakhir, ada satu nama yang sudah nggak muncul. Sari. Anak yang tahun lalu enggak naik kelas, terus enggak pernah balik lagi. Namanya sudah dihapus dari papan. Tapi kursinya masih kosong di pojok kelas. Enggak ada yang bertanya, nggak ada yang mengisi.
Di sebelah papan ranking, spanduk "SEKOLAH UNGGULAN — AKREDITASI A" masih terpasang. Unggul, Akreditasi. Nggak ada yang bilang karakter. Di bawahnya, Pak Salim masih menyapu. Sepatunya masih bolong. Enggak ada yang nempelin namanya di papan mana pun.
Raka berjalan lagi. Lebih cepat. HP-nya bergetar. Pesan dari Ayah. Sudah selesai?. Raka mengetik: Sudah. Berhenti, dihapus. Mengetik lagi: Sudah, Yah. Kali ini dikirim. Beberapa detik kemudian, balasan masuk : Rapor sudah dapat ?. Raka melihat layar. Jarinya nggak bergerak. HP dimasukin ke saku, belum dijawab.
Raka nggak langsung pulang. Dia duduk di halte depan sekolah. HP-nya bergetar. Pesan ayah: Rapor sudah dapat ? . Raka mengetik: Sudah. Terus dihapus. Mengetik lagi: Belum, Yah. Masih ada kegiatan. Dikirim. Ayah nggak bales. Raka nggak tahu mana yang lebih menyakitkan: ayah sibuk, atau ayah percaya.
Di rumah, ibu lagi memasak. Bau bawang, bau minyak. Raka masuk rumah tanpa suara. Melepas sepatu, menaruh tas di kamar. Dia keluarin rapor dari dalam tas. Kertasnya tipis, dingin. Dia melihat angkanya sekali lagi. 58. Terus dimasukin ke laci meja belajar. Di bawah tumpukan buku, di bawah kertas latihan. Laci ditutup, tangan kanannya menempel di kayu laci, dingin, ditarik.
"Raka?". Ibu memanggil dari dapur.
"Iya, Bu."
"Udah pulang? Jam segini?"
Raka keluar kamar. "Iya. Tadi ada kegiatan sebentar."
Ibu menengok. "Rapornya?"
Raka diam. Sebentar. "Belum dibagi, Bu. Katanya minggu depan."
Ibu mengangguk. "Oh. Ya udah. Mandi dulu. Nanti makan."
Raka masuk kamar mandi. Menutup pintu, bersandar di dinding dan meihat cermin. Wajahnya, anak SMA biasa, nggak ada yang beda. Tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang berasa beda. Kran dibuka, air mengalir, dingin. Wajah dibasuh, berkali-kali, nggak hilang.
Di dinding kamar mandi, ada gunting kecil. Yang biasa dipakai Ibu untuk memotong benang. Raka melihat gunting itu, lama, terus menggeleng. Dia enggak akan, tapi pikirannya udah sampai ke sana. Dan itu bikin dia lebih takut dari apa pun. Dia ingat Sari, anak yang nggak naik kelas, terus enggak pernah balik. Apa Sari juga pernah lihat gunting kayak gini? Apa nggak ada yang nanya?.
Malam itu, Raka nggak bisa tidur. Dia berbaring, lihat langit-langit, Mikirin angka 58, mikirin papan ranking, mikirin ayah. Mikirin Pak Salim dan sepatu bolong itu. Mikirin Sari, kursi kosong di pojok kelas.
Dia buka HP. Grup kelas. Temen-temennya ngomongin nilai. Kamu berapa? Aku 80. Aku 75. Saya 60, buseet. Raka baca. Satu per satu. 80. 75. 60. Semua lebih tinggi dari 58. HP ditutup, mata ditutup, tetap nggak bisa tidur.
Pagi berikutnya, Raka bangun lebih awal. Dia buka laci, keluarin rapor. Buka, 58. Masih 58. Dilihat lama, terus ditutup lagi. Dimasukin balik ke laci, di bawah tumpukan buku. Dia keluar kamar. Ibu udah di dapur, ayah udah pergi kerja.
"Raka, sarapan."
Raka duduk, makan, nggak ngomong. Ibu merhatiin "Kamu kenapa?" "Enggak apa-apa, Bu." "Pasti ada." Raka diam, sebentar. "Enggak apa-apa, Bu. Cuma capek." Ibu lihat dia, lama, terus ngomong pelan. "Raka, Ibu pernah SMA juga. Ibu tahu kalau ada yang kamu sembunyiin. Tapi Ibu enggak akan memaksa. Kalau kamu siap, bilang." Ibu balik ke kompor. Raka melihat punggungnya, lama, terus ngabisin sarapannya. Cepet, masuk kamar, ambil tas dan berangkat sekolah.
Di sekolah, Bu Mira memanggil dia. Di depan ruang guru, Raka berdiri, menunduk, koridor sepi. Di dinding, ada papan pengumuman guru: "TARGET AKREDITASI 2025: NILAI UJIAN RATA-RATA 85. TIDAK ADA SISWA DI BAWAH KKM." Raka melihat sebentar, terus menunduk lagi.
"Raka. Rapornya udah dibawa pulang?"
Raka diam sebentar : "Udah, Bu."
"Udah ditunjukin ke orang tua?"
Raka nggak menjawab. Bu Mira melihat dia, lama.
"Raka. Ibu tahu nilaimu."
Raka masih menunduk.
"Jangan bohong ke orang tua."
Bu Mira berhenti, nafasnya panjang. Dia membuka mulut lagi, tapi nggak ada suara. Cuma helaan napas. Dia menutup mulut lagi. Meihat ke jendela, koridor masih sepi.
"Dulu..." Bu Mira mulai lagi. "Dulu Ibu ada murid, Sari " Raka diam.. "Ibu coba bela dia. Ibu bilang ke kepala sekolah, nilai bukan segalanya. Tapi..." Dia berhenti. Tangannya di pinggang. "Ya udah, sana masuk " Bu Mira nggak nerusin. Dia cuma mengangguk ke arah kelas, terus balik ke ruang guru.
Raka berjalan ke kelas. Langkahnya berat, dia nggak tahu cerita selengkapnya. Tapi dia tahu, Sari nggak balik lagi. Dan dia tahu, Bu Mira nggak bisa ngomong lebih dari itu.
Di kelas, Dimas menengok. "Ka... Bu Mira bilang apa?" Raka duduk, menaruh tas. "Enggak apa-apa." Dimas melihat dia, lama. Terus ngomong pelan. "Aku juga 58, Ka. Matematika." Raka menengok, Dimas tersenyum. Kecil. "Aku juga belum bilang ke orang tuaku." Raka mengangguk.
Seminggu berlalu. Raka berhasil menyembunyikan rapornya. Ayah nggak tanya-tanya lagi. Ibu juga nggak mendesak. Tapi tiap kali ayah pulang kerja, Raka menahan nafas dan menghindari tatapannya.
Suatu sore, Bu Mira menelpon ayah. Raka cuma mendengar suara ayah dari ruang tengah. Pelan, terus diam, lama.
Keesokan harinya Ayah pulang lebih awal. Dia duduk di ruang tengah tanpa menghidupkan TV, tanpa melihat layer HP.
"Raka."
Raka keluar kamar. "Iya, Yah."
Ayah melihat dia. "Rapornya kapan dibagi?"
Raka diam. "Belum, Yah."
Ayah mengangguk pelan. "Raka. Jangan bohong."
Dada Raka sesak. "Aku enggak bohong, Yah."
"Bu Mira telepon ayah kemarin."
Raka menunduk, tangannya dingin. "Kenapa disembunyiin?"
"Aku... takut, Yah."
"Takut apa?"
Raka nggak menjawab, air matanya jatuh.
Ayah menarik nafas Panjang. "Ambil rapornya."
Raka masuk kamar, membuka laci, terus membawa rapor itu ke ruang tengah. Ayah membukanya. Matanya berhenti di satu angka. 58. Cangkir kopi di meja ditaruh agak keras. Kopinya tumpah dikit. Ayah enggak mengelap, cuma melihat tumpahan kopi itu.
"Ini yang kamu sembunyiin?"
Raka mengangguk.
Ayah menutup rapor. "Ayah enggak marah." Raka melihat dia, nggak yakin. " Tapi Ayah kecewa, bukan karena nilainya, tapi karena kamu bohong ". Ayah berhenti sebentar. "Tapi nilaimu juga masalah. Lihat Rizky, anak Pak Ruli, teman sekantor ayah. Matematikanya bagus, sering ikut lomba. Lha kamu ?”.
Raka diam, dia ingin ngomong bahwa dia memang nggak sehebat Rizky dalam matematika. Tapi dia jago bola, timnya bahkan baru menang pertandingan kemarin. Dia juga bantuin Ibu di rumah, nyuci sepatu dan baju sendiri, ngerawat tanaman. Tapi enggak satu pun keluar dari mulutnya.
Ibu masuk dari dapur. "Sudahlah, Yah. Raka pasti ngerti."
Ayah menengok. "Ibu jangan bela dia terus."
Ibu duduk di samping Raka. "Nilai rapor bukan... Raka itu..." Ibu berhenti. "Dia nyuci sepatu sendiri, loh. Baju juga, terus merawat tanaman. Ayah tahu enggak sih? ".
Ayah diam. "Ayah tahu. Tapi nilainya tetap harus diperbaiki. Besok harus segera ikut les matematika !”.
Raka menunduk. "Iya, Yah."
Ayah berdiri. "Sana mandi, nanti kita ngomong lagi."
Raka masuk kamar mandi, menutup pintu, duduk di lantai yang dingin. Dia menangis., nggak tahu kenapa, cuma menangis.
Keesokan harinya di sekolah, Dimas langsung nyamperin. "Haaa... matematika 58? Mantap, Bos." Dimas ketawa. Beberapa temen ikut ketawa. Raka cuma duduk, diam.
Bu Mira masuk dan lihat dia. "Raka, kamu kebanyakan main bola ya? Nilaimu jeblok."
Raka menunduk, hanya diam.
"Fokus belajar. Bola bisa kapan aja. Nilai enggak bisa diulang."
Raka tetap diam, dia ingin ngomong bahwa bola bukan sekadar permainan. Di lapangan, dia berasa berarti. Kemarin timnya menang karena golnya. Tapi dia tetap memilih diam.
Di sudut kelas, papan ranking masih terpampang. Nama-nama tersusun dari atas ke bawah. Raka melihat Namanya, di bawah. Ada yang ketawa, kali ini Raka nggak melihat mereka lama-lama. Dia memalingkan wajah.
4
Malam itu, Raka enggak langsung masuk kamar. Dia masih duduk di lantai kamar mandi, dingin. Air netes dari kran yang nggak ditutup rapat. Di luar sunyi, ada ketukan pelan di pintu. Raka mengangkat kepala, nggak ada ketukan kedua. Cuma langkah kaki yang menjauh ke ruang tengah.
Raka keluar, mengeringkan wajah. Terus membuka pintu kamar, gelap, cuma lampu meja belajar yang menyala. Ayah duduk di sana, di hadapannya buku-buku, kertas latihan, coretan, tanda silang. Ayah mengambil satu kertas, yang paling kusut. Dibaca lama, terus mengambil kertas berikutnya. Satu lagi, Raka diam.
"Ini kamu kerjain sendiri?" tanya Ayah pelan.
Raka mengangguk.
"Tiap hari?"
Raka mengangguk lagi. "Aku udah coba, Yah."
Ayah menaruh kertas, menarik nafas Panjang “Ayah baru tahu ".
Mata Raka tiba-tiba panas. Kali ini nggak bisa ditahan. Dia menunduk dan menutup wajah dengan dua tangan. Ayah nggak ngomong apa-apa. Dia cuma duduk di samping Raka, menunggu, sampai tangisnya reda.
Beberapa saat kemudian, Ayah ngomong pelan, "Besok kita cari cara belajar yang lain."
Raka mengangkat kepala. "Ayah enggak marah?"
"Marah kenapa?. Karena nilaimu jelek ?"
Ayah diam sebentar. "Nilaimu memang jelek."
Raka menunduk lagi, Ayah menunjuk meja belajar.
"Ayah selama ini cuma lihat angka. Nggak lihat ini, nggak lihat kamu."
Raka diam. Di ambang pintu, Ibu masih berdiri. Dia enggak masuk, cuma lihat keduanya. Terus menutup pintu pelan, di luar hujan.
Semester berikutnya, Raka belajar lebih keras. Ayah menepati janjinya. Dia sering duduk di samping Raka, menyemangati.
Waktu rapor dibagi, angka itu masih ada. 58. Raka melihat beberapa saat. Anehnya, perutnya enggak mual lagi. Dia ingat Bu Mira, dia inget ayah.
Raka menutup rapor dan masukin ke bagian atas tas.
Di koridor, papan ranking masih terpampang. Namanya masih di bawah. Raka jalan terus.
Di tangga, ada anak kelas satu duduk menangis sambil pegang rapor. 'Berapa?' '55.' Raka duduk di sampingnya. 'Aku dulu 58.' 'Terus?' Raka senyum kecil. 'Ya, tetap hidup.' Anak itu melihat dia. 'Jangan bohong sama orang tua. Sisanya, kita cari cara.' Raka berdiri dan pergi.
Sore harinya, dia lari ke lapangan bola. "Raka! Kapten! Pimpin pemanasan!" Raka lari ke tengah lapangan. Di sana dia tahu satu hal: dirinya bukan cuma anak dengan nilai 58. Dia kapten. Dia mencetak satu gol. Timnya menang. Di tribun, ayah dan ibunya tepuk tangan.
Malamnya, Raka membaca berita tentang anak seumurannya yang nggak kuat menahan tekanan nilai dan kekerasan di rumah. Dia menutup layer, tangannya gemeter.
Malam itu Raka membuka buku lagi. Bukan karena sistemnya udah berubah, belum. Tapi karena Raka udah berubah. Dia nggak lagi belajar buat ngebuktiin bahwa dirinya berharga. Dia belajar karena dia tahu: nilai 58 bukan seluruh dirinya.
Malam itu Raka membuka buku lagi. Di luar, hujan masih turun. Dia dengerin sebentar, terus dia tidur pulas.
Ketuk paragraf mana pun utk membagikan kutipannya